ARIFIN dan MAHMUD

Suatu hari seorang pengusaha besar sedang duduk santai di teras rumahnya. Pengusaha tersebut bernama “ARIFIN”. Sambil membaca koran ditemani secangkir kopi dan sejumlah roti. Sedang asiknya ARIFIN menikmati suasana pagi itu dia dikejutkan oleh seorang lelaki setengah banya bernama “MAHMUD”.

MAHMUD : Selamat pagi tuan…. Tuan… Saya Lapar… Tolong beri saya makan….

ARIFIN : Dasar pengemis… Pagi-pagi sudah mengganggu orang saja….

MAHMUD : Maaf Tuan… Saya bukan pengemis… Saya hanya meminta makan kepada Tuan….

ARIFIN : Apa bedanya…??

MAHMUD : Beda Tuan… Kalau pengemis, itu memang sudah pekerjaan rutin mereka, tapi saya tidak, saya hanya minta makan kepada Tuan, untuk menambah tenaga saya, supaya saya dapat bekerja. Mungkin sepiring nasi, sepotong tempe dan sejumput sambal tidak akan mengurangi harta tuan…

ARIFIN : Memang pekerjaan Bapak apa..??

MAHMUD : Kuli angkut pasar Tuan…

ARIFIN : Loo… Kalau begitu tentu Bapak memiliki uang untuk sekedar makan…

MAHMUD : Begini Tuan…. Tadi pagi memang saya sudah membeli nasi bungkus, dan masih ada sisa uang Rp. 10.000. Namun ketika saya hendak makan nasi bungkus tersebut, datanglah seorang Ibu dengan dua orang anaknya yang masih kecil. Ibu tersebut meminta nasa bungkus saya, karena sejak kemarin mereka belum makan. Saya merasa iba, dan memberikan nasi bungkus saya kepada ibu tersebut termasuk sisa uang Rp. 10.000 saya…

ARIFIN : Bapak ini bagaimana, Bapak sadar kalau Bapak sedang sulit… Mengapa Bapak membantu mereka. Sekarang Bapak harus meminta untuk sekedar makan saja.

MAHMUD : Itulah saya tuan… Saya rela berkorban demi kebahagian orang lain, meskipun harus mengorbankan hati dan perasaan saya. Saya bahagia melihat senyum dan ucapan terima kash dari orang-orang yang saya Bantu.

ARIFIN : Oke…!!! Bapak tadi bilang bahwa Bapak seorang kuli angkut pasar…

MAHMUD : Benar Tuan…

ARIFIN : Bapak bisa makan terlebih dahulu pada warung makan, nanti setelah Bapak mendapatkan uang hasil angkut Bapak, Bapak bisa bayar.

MAHMUD : Berhutang maksud Tuan…

ARIFIN : Yaaa.. Begitulah…

MAHMUD : Tidak mau Tuan… Sebisa mungkin saya tidak mau berhutang… Selagi saya bisa mengusahakan dengan cara lain, saya tidak mau berhutang…

ARIFIN : Mengapa Bapak tidak mau berhutang… Negara saja punya hutang…

MAHMUD : Saya tidak mau berhutang karena takut tidak sempat membayarnya. Coba Tuan pikirkan… Begitu saya keluar dari warung makan dari tempat saya berhutang, saya tertabrak mobil dan meninggal. Maka hutang makan saya pada warung tersebut akan saya mati… Saya tidak mau mati meninggalkan hutang.

ARIFIN : Baiklah, Saya akan meminta tolong kepada pembantu saya untuk menyiapkan sepiring nasi besar lauknya untuk makan Bapak pagi ini….

MAHMUD : Maaf Tuan… Kalau bisa, nasi beserta lauknya, di bungkus saja…

ARIFIN : Kenapa begitu…??

MAHMUD : Saya tidak ingin menghabiskan waktu saya berlama-lama disini…

ARIFIN : Memangnya kenapa…?? Mengapa Bapak tidak mau berlama-lama disini…?? Apakah Bapak tidak suka berbincang dengan saya…??

MAHMUD : Bukan begitu tuan…. Saya harus segera sampai ke pasar sepagi mungkin, karena di pagi hari lebih banyak barang yang perlu di angkut di banding siang hari… Saya takut tidak kebagian barang angkutan….

ARIFIN : Oh begitu… dalam sehari Bapak menjadi…. maaf, kuli angkut, berapa penghasilan yang Bapak peroleh…??

MAHMUD : Antara 20rb sampai 30rb… Memangnya kenapa Tuan…??

ARIFIN : Begini… Saya lagi butuh tukang taman. Kalau tidak keberatan saya mau Bapak menjadi tukang taman di rumah saya. Saya akan gaji Bapak 1jt dalam sebulan. Selain itu Bapak bisa tinggal dan makan disini….

MAHMUD : Terima kasih Tuan… Tapi maaf, saya tidak bersedia menjadi tukang taman di rumah bapak…

ARIFIN : Mengapa…. Apakah Gaji yang saya tawarkan kurang….??

MAHMUD : Bukan begitu Tuan… Sebisa mungkin saya tidak menerima budi dari orang lain, karena saya tidak mau terlalu banyak berhutang budi….

ARIFIN : Oh begitu… Jadi sesegera mungkin Bapak akan membalas budi orang lain…?

MAHMUD : Benar Tuan….

ARIFIN : Begini… Saya telah memberi budi saya kepada Bapak berupa nasi beserta lauknya. Kalau bapak ingin segera membalas budi tersebut, saya minta Bapak untuk menemani saya ngobrol sampai jam 10:00…Bagaimana..??

MAHMUD : Jika itu kehendak Tuan, saya bersedia…

ARIFIN : Saya juga ingin sesegera mungkin ingin membalas budi Bapak yang telah menemani saya ngobrol sampai jam 10:00, dengan memberikan uang kepada Bapak sebesar 50rb…. Adilkan…

MAHMUD : Oh… Kalau Tuan memberi saya uang 50rb, maka saya akan menemani Bapak ngobrol sampai jam 5:00 sore. Dan jika Tuan hanya memiliki waktu ngobrol sampai jam 10:00, maka sisa waktunya, saya akan membersihkan halaman dan taman. Mungkin ini yang lebih adil…

ARIFIN : Oke setuju…

Cerita diatas mungkin tidak akan pernah terjadi, tapi banyak pelajaran dari percakapan ARIFIN dan MAHMUD tersebut. Lalu apa pelajaran yang anda dapatkan dari cerita diatas….???

3 Responses to “ARIFIN dan MAHMUD”

  1. dabel el Says:

    saluut dgn pa MAHMUD, ,rela berkorban demi orang yg sngat mmerlukan,,

  2. kalo semua orang kaya P mahmud dan P arifin, negara ini udah jadi negara maju 10 tahun setelah merdeka boss…

  3. Mari buruan bergabung bersama kami gan
    Minimal deposit 50rb bonus 50rb berlaku kelipatan hingga 1juta
    Dan kunjungi web kami gan http://www.mentaripoker.com/mentaripk/index.php
    Dan dapatkan bonus2 menarik lainnya gan dan jangan lupa mengajak teman2 untuk bermian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: